Sumber: www.gramedia.com
Judul buku: Totto-chan – Gadis Cilik di Jendela
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Terbit : April 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:
978-979-22-3655-2; 10608004
Halaman: 272

Ibu Guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.




Sumber: ResensiBuku.com, 19 April 2009
Peresensi: Mom Leila Niwanda
Judul buku: Serba Serbi Menyusui
Penyusun: Meidya Derni dan Orin
Terbit : 2007
Penerbit:W.R.M Publishing
ISBN:
9791625050
Halaman: 112

Pengalaman baru seringkali menimbulkan pertanyaan. Sudah benarkah yang dilakukan? Apa masih ada yang perlu diketahui lagi? Kalau muncul rintangan, bagaimana cara menanganinya? Belum lagi kalau orang-orang di sekitar berebut memberikan nasihat yang malah jadi membingungkan.Harus mengikuti saran yang mana? Informasi mana yang bisa dipercaya? Menyusui adalah salah satu pengalaman yang mungkin menimbulkan rasa was-was pada ibu yang baru melahirkan.

Buku setebal 112 halaman ini memuat kumpulan diskusi tentang menyusui oleh para ibu yang tergabung dalam milis We R Mommies (WRM) Indonesia. ’Pekerjaan’ menyusui sepertinya memang cukup kompleks. Jangankan untuk menyusui eksklusif (yang berarti bayi hanya diberi ASI saja tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih selama 6 bulan pertamanya), untuk konsisten menyusui sehari-hari pun ada saja tantangannya. Ibu bisa dihadapkan pada pekerjaan yang menyita waktu, gangguan kesehatan, omongan tetangga yang tidak mendukung, atau justru si bayi yang tiba-tiba enggan menyusu. Namun, bukan berarti tidak ada kiat untuk membuatnya lebih mudah. Pengalaman para mommies membuktikannya.

Di bagian awal buku pembaca diajak mengenal karakteristik dan standar kualitas ASI. Dari tampak luar, aroma, hingga rasanya. Ibu diharapkan bisa menilai apakah ASI yang dihasilkannya sudah cukup memadai atau belum secara mutu maupun jumlah. Ada tabel dengan sumber tepercaya untuk mengukurnya. Kalau memang belum mencukupi, ada tips untuk meningkatkannya. Ada yang bersifat fisik seperti konsumsi vitamin atau daun katuk. Dukungan dari orang-orang terdekat terutama suami pun sangat membantu ibu agar lebih pede untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Bila memang ada hal yang sangat mengganggu, ibu bisa menghubungi klinik laktasi terdekat untuk berkonsultasi. Tak lupa, beberapa mitos tentang ASI juga dibahas agar ibu tidak ‘tersesat’.

Rasanya kebanyakan orang sudah tahu tentang manfaat ASI, akan tetapi dalam penerapannya tidak selalu sejalan. Ada saja yang beralasan bahwa menyusui itu repot, gizinya tak selengkap susu formula, sampai cemas kalau bayinya nanti terlalu manja. Buku ini menyajikan kembali fakta tentang keunggulan ASI bahkan dari sudut pandang yang mudah saja misalnya tak perlu repot menyiapkan botol susu.

Kendala seperti kesibukan kerja, bayi minta disusui saat dalam perjalanan, dan bayi bingung puting karena sempat beberapa saat terputus dari ASI (baik langsung maupun tidak langsung) tak jarang muncul. Ini bisa disiasati dengan memerah ASI untuk dibekukan dan nantinya diberikan pada bayi selama ibu berada di kantor, mengenakan busana yang memungkinkan privasi ibu tetap terjaga sekaligus bisa memenuhi kebutuhan bayi akan ASI, serta tetap telaten dan sabar mencoba (diusahakan saat sempat terputus pemberian susu dilakukan memakai sendok). Di sini muncul beberapa kejadian yang mungkin memancing senyum. Kerepotan ibu bekerja yang menenteng termos berisi ASI perah ke sana kemari seperti tukang es, bagaimana rasanya saat sedang asyik memompa ASI di dalam mobil tiba-tiba muncul pedagang di sebelah, atau ketika harus ’kecolongan’ karena bayi yang seharusnya masih ASI eksklusif diberi penyetan pisang dan nasi oleh mantan pengasuh dengan alasan supaya montok. Hal-hal seperti ini memang menjadi romantika tersendiri bagi ibu menyusui.

Kemudian diterangkan pula secara terperinci tentang serba-serbi ASI perah. Dimulai dari tips memerah dengan tangan ataupun alat pompa yang diusahakan dilakukan di tempat yang bersih dan dalam konsidisi santai. Penyimpanan ASI yang sudah diperah tentu sangat perlu diperhatikan, baik dari segi sarana maupun waktunya. Tak kalah pentingnya aturan dasar memberikan ASI perah tersebut pada bayi. Ini terutama berguna bagi ibu bekerja yang tidak bisa setiap saat menyusui bayinya secara langsung. Berikutnya ada berbagai posisi menyusui yang bisa dipraktikkan oleh ibu. Baik dengan tiduran maupun menggendong, pastikan baik ibu maupun bayinya sama-sama merasa nyaman.

Meski sangat mendukung pemberian ASI, buku ini tidak terkesan menggurui. Ibu yang dengan terpaksa tidak bisa memberikan ASI pada bayi karena alasan kesehatan dijamin tidak merasa ’diserang’. Bahasa akrab yang digunakan juga membuat buku ini lebih dekat dengan pembaca. Jangan keburu mengernyitkan dahi dulu bila menemui istilah asing saat membaca karena di bagian akhir buku tersedia indeks. Ilustrasi dari Aminah Mustari (Mom Mimin) ikut mempermanis tampilan buku bersampul warna ungu ini. Pendeknya, buku ini merupakan pegangan yang selayaknya dimiliki dan dibaca oleh ibu, calon ibu, maupun siapa saja yang tertarik untuk mengetahui seluk-beluk ASI.

(Kiriman Mom Leila Niwanda)




Sumber: Lampung Pos, 19 April 2009 (dalam ResensiBuku.com)
Peresensi: Denny Ardiansyah
Judul buku: Drunken Mama (Kumpulan Kisah Tidak Teladan)
Penulis: Pidi Baiq
Terbit : Februari 2009
Penerbit: Dar Mizan
ISBN: 978-979-752-952-9
Halaman: 216

Untuk ketahuilah bersama alangkah hidup ini menakjubkan, sungguh menakjubkan. Sayang sekali kalau hidup bagimu hanya sekadar untuk menghirup oksigen” (Pidi Baiq, Drunken Mama; hlm. 116-117).

KONON, kehidupan ialah pusaran tanpa titik henti. Mati bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat doktrin yang termaktub dalam ajaran agama-agama di dunia yang semuanya yakin akan adanya kehidupan setelah kematian menyambangi manusia. Dus, tidaklah aneh jika manusia senantiasa mencari jawaban atas pelbagai fenomena yang melingkupinya setiap hari, seumur hidupnya.

Kiranya, hanya ada satu kegiatan yang membuat manusia tampak sebagai “benar-benar manusia”, yakni menafsir kehidupan. Kegiatan tersebut menunjukkan manusia sungguh-sungguh memiliki akal–entitas yang membedakan manusia dengan hewan.

Akal yang selalu digunakan untuk menafsir kehidupan niscaya akan membuat manusia tak terperosok lubang hitam banalitas kebudayaan. Namun, akal yang digunakan untuk menafsir kehidupan haruslah bersifat bebas, lentur, dan liar. Sebab, kehidupan sehari-hari manusia telah disesaki segala hal yang serbakaku. Artinya, manusia tak harus berkerut kening dan berpeluh badan ketika menafsir lembar demi lembar dalam “buku kehidupan”.

Kegiatan menafsir kehidupan ini sebenarnya pernah pula disebut sebagai sesuatu yang salah oleh Karl Marx. Filsuf asal Jerman itu berkata, “Para filsuf hanya menginterpretasikan dunia dalam pemikirannya, padahal bagaimanapun yang terpenting ialah mengubahnya!” Untunglah, Pidi Baiq bukan seorang filsuf–setidaknya ia tidak pernah mengaku sebagai filsuf, maka kita tetap laik membaca buku ketiga dari Seri Drunken yang ditulisnya

Pidi seolah tiada pernah merasa jengah menafsir fenomena yang melintas di hadapan matanya. Lebih jauh, ia pun tampaknya belum merasa cukup mengembangkan imajinasi dalam berperilaku yang oleh awam disebut sebagai ganjil dan aneh. Tetapi, Pidi hanya ingin menghibur hati manusia yang sering tertimpa lara nan berat. Pidi, tidak lebih, cuma ingin mengajak orang lain menafsir kehidupan dengan hati riang dan perasaan yang gembira. Tentu saja, tujuannya ialah kehidupan yang bahagia.

Membaca seluruh karya Pidi, sampai di Drunken Mama, saya memang harus tersentak dengan pertanyaan yang muncul otomatis dalam hati. Benarkah semua cerita Pidi selama ini sungguh-sungguh terjadi?

Kalau melihat struktur dan efek penceritaan dalam kisah yang telah ditulis Pidi sebagai catatan harian, pembaca akan merasakan kedahsyatan cerita-cerita tersebut. Kita memang akan dibawa untuk memercayai bahwa seluruh kisah Pidi adalah nyata adanya. Namun, lagi-lagi, kaidah umum memaksa pembaca untuk meyakinkan diri dengan bertanya pada hatinya; “Sungguhkah ada manusia seperti Pidi ini?”

Kalau cerita-cerita humor Pidi ialah suatu kebenaran, secara tidak sadar, ia telah meruntuhkan kekhawatiran Karl Marx terhadap orang-orang yang sering menafsir kehidupan. Pidi tak hanya menafsir kehidupan, tapi ia mengubahnya lewat perilaku yang humoris dan kritis. Sementara itu, jika Pidi hanya sekadar berimajinasi dalam bentuk tulisan–untuk tak menyebutnya berbohong–termasuk dalam 17 kisah di Drunken Mama ini, tak seharusnya kita mencaci Pidi. Sebab, bagaimana mungkin memarahi orang yang telah menghibur hati?

Anggap saja cerita-cerita Pidi bagaikan tabung oksigen yang biasa diberikan kepada orang yang pingsan. Membaca semua cerita Pidi memang ibarat menghirup oksigen yang membuat kita segar untuk kembali menapaki gemunung persoalan dalam hidup ini. Bahkan lebih dari itu, kisah-kisah humor yang ditulis Pidi seolah setia mengajak pembaca untuk tak sekadar menjalani kehidupan yang kaku dalam rutinitas. Maka, sekali lagi, sampai di Drunken Mama, Pidi Baiq seolah belum kehabisan energi kreatifnya. Hingga tetaplah laik kalau karya paling anyar dari Pidi ini dibaca.

* Denny Ardiansyah, peneliti kebudayaan di SoSADem (Society of Sociological Analitic for Democracy)



Sebelumnya saya ucapkan SELAMAT DATANG dan terima kasih telah mengunjungi blog ini. Tentunya saya akan selalu berusaha memberikan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi anda dan hidup anda dalam blog ini. Yang insya Allah bisa anda dapatkan di blog ini adalah:

  1. Berbagai artikel yang berhubungan dengan buku dari saya pribadi maupun dari berbagai sumber,

  2. Ulasan tentang buku dan pengarangnya dari saya pribadi maupun dari berbagai sumber,

  3. Buku pesanan yang anda inginkan atau butuhkan, terutama buku yang sudah saya resensi. Setelah membaca suatu resensi buku, anda dapat memesan buku tersebut langsung kepada saya dengan memesannya melalui email. Anda cukup menuliskan di subject email: Pesan Buku. Kemudian untuk pesannya: Tuliskan judul buku yang anda dipesan, berapa exemplar, serta nama dan alamat yang dituju, dan nomor telepon atau HP yang bisa dihubungi, dan jasa pengiriman apa yang anda ingin gunakan. Setelah itu anda akan mendapatkan konfirmasi tentang ketersediaan buku, tata cara pembayaran serta jumlah yang harus dibayarkan (harga buku+ongkos kirim).

Tidak menutup kemungkinan saya akan mencarikan buku yang anda inginkan semampu saya, walaupun belum saya resensi ataupun terdaftar dalam katalog.

Feel free to contact me. Merasa bebaslah menghubungi saya untuk mengobati rasa haus anda mendapatkan buku-buku yang bermutu, baik buku lama maupun baru.



Apakah ada hubungan antara buku dan uang koin? Ada. Jika kita hendak membeli sebuah buku, tentu harus ada uang sebagai alat pembayaran. Uang koin adalah alat pembayaran. Maka, kita bisa membeli buku dengan uang koin (asal kuat…. malu). Tapi bukan itu maksud tulisan ini. Hubungan antara buku dan uang koin yang hendak dibahas adalah hubungan makna di antara keduanya. Hubungan seperti apa yang dimaksud? Bagi yang penasaran dan ingin tahu, serta bagi yang ingin mengecek kebenaran tebakannya, LANJUTKAN!!! ke paragraf-paragraf berikut ini dan renungkan contoh-contoh kasus yang akan saya sajikan.

Kasus #1: Sebuah mahakarya sastra, Lady Chatterley’s Lover, karya D.H. Lawrence, pada awal diterbitkan dianggap sebagai novel porno dan dilarang beredar di Inggris, Amerika, dan Eropa. Namun saat ini justru dianggap sebagai novel sastra yang luar biasa. Bahkan, mahasiswa dan dosen sastra membedah karya ini dalam proyek critical analysis mereka. Menurut anda, Lady Chatterley’s Lover merupakan novel yang baik ataukah buruk?

Kasus #2: Cerita anak, Cinderella dan Putri Salju, serta yang terbaru Sinchan dan Detective Conan pada awalnya merupakan cerita yang diperuntukkan bagi orang dewasa. Namun saat ini, merupakan cerita anak yang terkenal di seluruh dunia (Cinderella dan Putri Salju) dan di Indonesia (Sinchan dan Detective Conan). Menurut anda, apakah cerita-cerita di atas adalah cerita-cerita yang baik ataukah buruk bagi anak?

Kasus #3: Buku-buku bertema keuangan yang sangat fenomenal karya Robert T. Kiyosaki memberikan pencerahan dan pemahaman baru bagi banyak orang di seluruh dunia tentang keuangan, kecerdasan finansial serta konsep kaya dan miskin. Namun, buku-bukunya juga menuai banyak kontroversi dari berbagai kalangan terutama para ahli dan praktisi real estate di Amerika. John T. Reed, pakar dan penulis buku tentang real estate menganggap buku-buku karya Robert T. Kiyosaki sebagai tulisan fiksi dan hanya khayalan sang penulis karena tokoh-tokoh dan kesuksesan finansial yang diceritakan dalam bukunya adalah fiktif belakang. Menurut anda, apakah buku-buku tulisan Robert T. Kiyosaki seperti Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant,dan Guide to Investing merupakan buku-buku yang baik ataukah buruk?

Masih banyak kasus-kasus tentang buku dan bacaan yang menjadi kontroversial di kalangan masyarakat dunia. Kadang kita merasa bingung menetapkan dan menentukan mana buku yang baik dan mana buku yang buruk untuk dibaca. Itulah kenapa buku memiliki hubungan maknawi dengan uang koin. Uang koin memiliki dua sisi yang berbeda. Kita hanya bisa melihat salah satu sisi dari koin tersebut dan tidak sisi yang lain. Begitu pula buku. Buku yang baik dan buruk ada pada sudut pandang pembacanya. Sebuah buku akan dianggap sebagai buku yang baik oleh seorang pembaca, sementara oleh pembaca yang lain dapat dianggap sebagai buku yang buruk.

Apa sikap kita terhadap berbagai macam buku dengan berbagai macam pandangan yang berbeda mengenai baik buruk buku-buku tersebut? Be Neutral. Jadilah pembaca yang netral dan obyektif, yang tidak mudah menganggap suatu buku adalah buku yang baik atau buruk. Analisa dan gali isi suatu buku secara mendalam. Selama nilai-nilai yang ada dalam buku tersebut selaras dengan nilai-nilai kita, maka buku itu adalah ‘buku baik’ bagi kita. Bila nilai-nilai yang ada dalam buku tersebut tidak selaras dengan nilai-nilai kita, bukan berarti buku itu adalah buku yang buruk. Buku ‘buruk’ itu justru merupakan referensi yang bagus bagi kita untuk memahami nilai-nilai yang berbeda dari pola pikir dan sudut pandang manusia yang berbeda. Bukankah Berbeda Itu Indah?